Informasi
| Pengarang | : | Intan Nurjanah |
| Penyunting | : | Nanda Nurahman |
| Tata Letak | : | Muhammad Rifat Althaf |
| Halaman | : | X + 143; 13 cm x 19 cm |
| ISBN | : | - |
| e-ISBN | : | - |
| Penerbit | : | Ananta Vidya |
| Cetakan | : | 1 |
| Isi Cetakan | : | hitam putih |
| Tahun | : | 2025 |
Pembelian
silahkan Login terlebih dahuluTersedia juga di:
Sinopsis
“Mahabbatun Mu’allaqah — Cinta yang Tergantung”
Di sebuah pesantren bernama Al-Mukhlishin, dua hati bertemu tanpa sengaja: Nazmi, santri laki-laki yang tenang dan penuh tekad, dan Nazya, santri perempuan yang lembut dan pemalu. Mereka tumbuh bersama dalam kegiatan sekolah, Pramuka, organisasi, hingga drama kelas. Dari tatapan-tatapan singkat, perasaan mereka perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pertemanan.
Namun, perjalanan mereka tidak mudah. Indira, teman dekat sekaligus sosok yang juga menyukai Nazmi, membuat hubungan di antara mereka kian rumit. Cemburu, iri, dan kesalahpahaman menjadi ujian pertama cinta yang belum sempat diungkapkan.
Saat naik ke kelas 9, Nazmi dan Nazya akhirnya dipertemukan dalam sebuah drama bertema cinta yang tidak bisa bersatu karena harus berfokus pada masa depan. Ironisnya, peran dalam drama itu menjadi cermin dari perasaan mereka sendiri. Hingga pada akhirnya, sebelum perpisahan kelulusan, Nazmi mengungkapkan perasaan yang selama ini ia simpan. Nazya pun membalas dengan kejujuran yang sama.
Namun takdir kembali menguji.
Keduanya melanjutkan sekolah di tempat yang berbeda. Nazmi ke pesantren Darunnajah untuk memperdalam ilmu agama dan meniti jalan menuju cita-citanya sebagai dokter. Nazya melanjutkan ke SMA negeri untuk mengejar impiannya di dunia hukum. Mereka terpisah jarak dan waktu, namun tetap terhubung oleh doa dan rindu yang tak terucap.
Hingga suatu hari, saat mereka sudah terbiasa menjaga perasaan dari jauh, Nazmi membawa kabar bahwa ia berhasil mendapat beasiswa kuliah kedokteran di luar negeri. Keputusan itu membawa keduanya pada perpisahan yang lebih besar dari sebelumnya.
Sebelum keberangkatannya, Nazmi memberikan kalung berbentuk bulan terbelah—sebuah simbol bahwa meski terpisah ruang dan waktu, mereka tetap terhubung oleh langit yang sama.
Sebab beberapa cinta tidak berakhir,
hanya menunggu waktu untuk dipertemukan kembali dalam takdir yang lebih indah.
Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang memperbanyak maupun mengedarkan buku dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit maupun penulis.